Kamis, 11 Maret 2010

DOWNLOAD WAYANG KULIT LAKON "BANJARAN BISMA" DALANG KI NARTO SABDO - FORMAT MP3

Sekilas tentang Ki Narto Sabdo

Sunarto nama aslinya, lahir di Wedi, Klaten, Jawa Tengah, tanggal 25 Agustus 1925 dari keluarga kurang mampu. Ayahnya, Partinojo seorang pembuat sarung keris. Oleh karena kemiskinannya ini Sunarto kecil tak dapat melanjutkan sekolahnya setelah putus sekolah angka “telu’ pada Standart School Muhammadiyah. Disudutkan pada situasi ekonomi yang sulit ini, Sunarto yang sudah beranjak remaja ikut menopang ekonomi keluarga dengan mencari uang melalui kemampuannya dalam bidang seni lukis. Merasa mampu pada bidang kesenian lainnya, dia pun kemudian turut memperkuat orkes keroncong “Sinar Purnama” sebagai pemain biola.

Minatnya yang besar pada dunia kesenian ini lebih tampak lagi ketika dia melanjutkan sekolah di Lembaga Pendidikan Katolik. Terlebih-lebih setelah perkenalannya dengan Ki Sastrasabdho pada tahun 1945. Oleh pendiri Ngesti Pandowo ini Sunarto betul-betul ditempa kemampuannya dalam mengenali dan mendalami instrumen gendang.

Lewat Ki Sastrasabdho pula, Sunarto mengenal dunia pewayangan. Maka sejak itu pun Sunarto belajar mendalang . Antara Ki Sastrosabdho dan Sunarto adalah ibarat “Warangka manjing curuga, curiga manjing warangka”, keduanya adalah satu kesatuan sebagai anak dan bapak. Oleh karenanya kemudian Ki Sastrosabdho menganugerahi nama belakangnya kepada murid kinasihnya ini menjadi Nartosabdho.

Dari perjalanan hidupnya tersebut tampak bahwa Ki Nartosabdho telah melalui proses yang panjang dalam berkesenian . Jiwanya jadi kaya lantaran dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman batin baik dalam hidup maupun dalam berkesenian.

Pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan masyarakat telah memperkaya dirinya dengan berbagai pengetahuan, sampai-sampai Presiden Soekarno waktu itu menjadikan dirinya sebagai dalang kesayangannya.


Sekilas tentang Bisma (Tokoh Pewayangan dalam kisah Mahabarata)

Bisma adalah anak Prabu Santanu, Raja Astina dengan Dewi Gangga alias Dewi Jahnawi (dalam versi Jawa). Waktu kecil bernama Raden Dewabrata yang berarti keturunan Bharata yang luhur. Ia juga mempunyai nama lain Ganggadata. Dia adalah salah satu tokoh wayang yang tidak menikah yang disebut dengan istilah Brahmacarin. Berkediaman di pertapaan Talkanda. Bisma dalam tokoh perwayangan digambarkan seorang yang sakti, dimana sebenarnya ia berhak atas tahta Astina akan tetapi karena keinginan yang luhur dari dirinya demi menghindari perpecahan dalam negara Astina ia rela tidak menjadi raja.
Resi Bisma sangat sakti mandraguna dan banyak yang bertekuk lutut kepadanya. Ia mengikuti sayembara untuk mendapatkan putri bagi Raja Hastina dan memboyong 3 Dewi. Salah satu putri yang dimenangkannya adalah Dewi Amba dan Dewi Amba ternyata mencintai Bisma. Bisma tidak bisa menerima cinta Dewi Amba karena dia hanya wakil untuk mendapatkan Dewi Amba. Namun Dewi Amba tetap berkeras hanya mau menikah dengan Bisma. Bisma pun menakut-nakuti Dewi Amba dengan senjata saktinya yang justru tidak sengaja membunuh Dewi Amba. Dewi Amba yang sedang sekarat dipeluk oleh Bisma sambil menyatakan bahwa sesungguhnya dirinya juga mencintai Dewi Amba. Setelah roh Dewi Amba keluar dari jasadnya kemudian mengatakan bahwa dia akan menjemput Bisma suatu saat agar bisa bersama di alam lain dan Bisma pun menyangupinya. Diceritakan roh Dewi Amba menitis kepada Srikandi yang akan membunuh Bisma dalam perang Bharatayuddha.
Dikisahkan, saat ia lahir, ibunya moksa ke alam baka meninggalkan Dewabrata yang masih bayi. Ayahnya prabu Santanu kemudian mencari wanita yang bersedia menyusui Dewabrata hingga ke negara Wirata bertemu dengan Dewi Durgandini atau Dewi Satyawati, istri Parasara yang telah berputra Resi Wyasa. Setelah Durgandini bercerai, ia dijadikan permaisuri Prabu Santanu dan melahirkan Citranggada dan Wicitrawirya, yang menjadi saudara Bisma seayah lain ibu.
Setelah menikahkan Citranggada dan Wicitrawirya, Prabu Santanu turun tahta menjadi pertapa, dan digantikan anaknya. Sayang kedua anaknya kemudian meninggal secara berurutan, sehingga tahta kerajaan Astina dan janda Citranggada dan Wicitrawirya diserahkan pada Byasa, putra Durgandini dari suami pertama. Byasa-lah yang kemudian menurunkan Pandu dan Dretarata, orangtua Pandawa dan Korawa. Demi janjinya membela Astina, Bisma berpihak pada Korawa dan mati terbunuh oleh Srikandi di perang Bharatayuddha.
Bisma memiliki kesaktian tertentu, yaitu ia bisa menentukan waktu kematiannya sendiri. Maka ketika sudah sekarat terkena panah, ia minta sebuah tempat untuk berbaring. Korawa memberinya tempat pembaringan mewah namun ditolaknya, akhirnya Pandawa memberikan ujung panah sebagai alas tidurnya (kasur panah) (sarpatala). Tetapi ia belum ingin meninggal, ingin melihat akhir daripada perang Bharatayuddha.


Download Audio Wayang Kulit Lakon "Banjaran Bisma" - Dalang Ki Narto Sabdo


Ki Nartosabdho - Banjaran_Bisma_01.mp3

Ki Nartosabdho - Banjaran_Bisma_02.mp3

Ki Nartosabdho - Banjaran_Bisma_03.mp3

Ki Nartosabdho - Banjaran_Bisma_04.mp3

Ki Nartosabdho - Banjaran_Bisma_05.mp3

Ki Nartosabdho - Banjaran_Bisma_06.mp3

Ki Nartosabdho - Banjaran_Bisma_07.mp3

Ki Nartosabdho - Banjaran_Bisma_08.mp3

Selamat men-download, semoga mendapatkan manfaat.












[Sumber:
http://wayangprabu.com/mp3-wayang/ki-nartosabdho/
http://wayangprabu.files.wordpress.com/2009/12/bisma_l.gif
http://wayangprabu.files.wordpress.com/2009/12/bisma_solo2.jpg
http://nartosabdho.co.cc/?page_id=2
http://id.wikipedia.org/wiki/Bisma]

_________________________________________________
Mari kita lestarikan budaya Jawa sebagai bagian dari budaya bangsa.
(Winarni & partner)
_________________________________________________

1 komentar:

  1. terimakasih takterhingga
    kali ini saya bisa menikmati karya SANG MAESTRO idola saya.

    sinyo erik singhasari

    BalasHapus